kristiantin

Juli 15, 2011

ilmu linguistik

Filed under: Uncategorized — englishstorysharing @ 4:17 am

INTRODUCTION to LINGUISTICS

FKIP BAHASA INGGRIS

MAHASARASWATI UNIVERSITY DENPASAR

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PENGANTAR LINGGUISTIK

PROF. DR. J. W. M. VERHAAR

 

 

DISUSUN OLEH :

 

DEWI AGUS KRISTIANTIN     : 08 – 2792

KELAS IV H

 

 

KATA PENGANTAR

 

 

Assalamu Alaikum warahmatullahi wabarakatu…,

Om Swastiastu,

Salom….,

Puji syukur pada Tuhan yang berkat rahmat-Nya makalah ini dapat terselesaikan dengan baik tepat pada waktunya. Terima kasih pula pada dosen Introduction to Linguistics, Ms. Ida Ayu Martini, atas tugas yang diberikan sehingga saya memiliki pengetahuan yang lebih jelas dan paham tentang materi ajar yang telah diberikan selama ini lebih dalam yang dipersiapkan untuk menjadi tenaga pendidik..

Makalah yang berjudul “ Pengantar Lingguistik “ ini merupakan hasil rangkuman dari buku pengantar linguistik karangan Prof. Dr. Verhaar yang disusun guna memenuhi tugas semester IV materi Introduction to Linguistics.. Dan apabila ada kekurangan atau kekeliruan pada bahasan yang telah disusun, saya sebagai penyusun mohon pemaklumannya.

Terima kasih,

Dewi Agus Kristiantin


DAFTAR ISI

 

Kata Pengantar………………………………………………………………1

Daftar isi……………………………………………………………………..2

Bab I. Pendahuluan………………………………………………………….3

A.   Latar Belakang…………………………………………………………3

B.   Batasan Masalah…..………………………………………..…………4

C.   Tujuan Penyusunan Makalah……………………………….…………4

D.    Identifikasi Masalah………………………………………………….4

Bab II. Pembahasan Lingguistik……………………….……….……………5

A.    Pengenalan Lingguistik………………………………………………5

B.    Bidang – Bidang Lingguistik…..……………………………………13

B.1. Fonetik………………………………………………………….18

B.2. Fonologi………….……………………………………………..21

B.3. Morfologi……………………………………………………….

B.4. Sintaksis, Fungsi, Kategori, Peran………………………………

B.5. Masalah Tambahan dalam Sintaksisi……………………………

B.6. Teknik Analisa Sistematis……………………………………….

B.7. Semantik…………………………………………………………

Bab III. Penutup……………………………………………………………32

A. Kesimpulan…………………………………………………………..32

Daftar Pustaka………………………………………………………………34


BAB I

PENDAHULUAN

 

A. Latar Belakang

 
Pendidikan kesusastraan merupakan pendidikan ilmiah yang erat kaitannya dengan bahasa yang dalam dunia pendidikan itu sendiri dikenal dengan istilah lingguistik. Tiap daerah memiliki bahasa yang berbeda namun masih bisa untuk dikaji secara ilmiah dengan polanya yang cukup rumit namun cukup menarik untuk dibahas. Kegiatan pembelajaran tersebut menyangkut metodologi dan strategi mengingat bidang – bidang yang bisa dipelajari dari ilmu bahasa. Bagaimana seorang guru menggunakan metode dan strategi pembelajaran yang efektif dan menyenangkan; ditentukan oleh kemampuan dan ketrampilan guru. Pembelajaran yang menyenangkan dapat mewujudkan pembelajaran yang dinamis, dan demokratis.
Sebagaimana dikenal istilah quantum teaching, quatum learing, dan enjoy learning dalam praktek pembelajaran di sekolah, hakekatnya mengembangkan suatu model dan strategi pembelajaran yang efektif dalam suasana menyenangkan dan penuh makna. Salah satu model belajar yang bisa dikembangkan dalam proses belajar yaitu dengan self learning berupa merangkum sehingga siswa memiliki kemampuan untuk memahami dan lebih menyerap materi. Adapun implementasi dari self learning tersebut berupa pembahasan bersama atau diskusi.
Guru sebagai factor menentukan mutu pendidikan. Karena guru berhadapan langsung dengan para peserta didik dalam proses pembelajaran di kelas. Di tangan guru mutu kepribadian mereka dibentuk. Guru adalah kurikulum berjalan. Sebaik apa kurikulum dan system pendidikan yang ada, tanpa didukung kemampuan guru, semuanya akan sia-sia. Guru kompeten dan efektif, tanggungjawab utamanya mengawal perkembangan peserta didik sampai suatu titik maksimal. Tujuan akhir seluruh proses pendampingan guru adalah tumbuhnya pribadi dewasa yang utuh.

B.  Batasan Masalah

 

Berdasarkan uraian pada latar belakang masalah di atas maka permasalahan mendasar yang hendak ditelaah dalam makalah ini adalah lingguistik dan bidang – bidangnya secara lebih rinci.

C. Tujuan Penyusunan Makalah

 

©     Memenuhi nilai tugas mata kuliah Introduction to Linguistics Semester IV.

©     Mendeskripsikan, menelaah, mengkaji lebih dalam tentang materi ajar, dan merangkumnya.

 

 

D. Manfaat Penyusunan Makalah

 

©       Teoretis, untuk mengkaji ilmu pendidikan khususnya dalam memahami ilmu lingguistik dan bidang – bidangnya.

©       Praktis, bermanfaat bagi:

(1) para pendidik mampu untuk mengembangkan pemahaman siswa dalam dunia pendidikan kesusastraan,

(2) mahasiswa agar memahami tentang pengertian dan cabang ilmu lingguistik secara detail.

 

E.  Identifikasi Masalah

Mencari bahan dilakukan dengan membaca, meneliti bahan yang sedang dibahas berdasarkan referensi yang talah diberikan, dan menyeleksi untuk dirangkum menjadi sebuah makalah yang sarat isi. Diambil dari buku karangan J. W. M. Verhaar.

BAB II

PEMBAHASAN

ILMU LINGGUISTIK

 

A.      Pengenalan Lingguistik

(1) Mengenai namanya

Lingguistik berarti “ilmu bahasa”. Kata “lingguistik” berasal dari kata latin lingua ‘bahasa’. Ferdinand de Saussure, seorang sarjana Swiss, dianggap sebagai pelopor lingguistik modern dan bukunya yang berjudul “cours de linguistique generale” sangat terkenal dan dianggap sebagai dasar lingguistik modern.

(2) Mengapa ‘umum’?

Ilmu lingguistik sering pula disebut “lingguistik umum”. Artinya lingguistik tidak hanya menyelidiki suatu bahasa tertentu tanpa memperhatikan ciri-ciri bahasa lain. Dengan perkataan, lain para sarjana lingguistik tidak hanya menyelidiki salah satu langue saja, tetapi juga tempatnya di dalam langage.

(3) Lingguistik sebagai ilmu pengetahuan spesifik

Bahasa itu dapat diselidiki oleh banyak ilmu. Umpamanya seorang ahli teknik telekomunikasi dapat menyelidiki bunyi-bunyi bahasa dengan metode ilmu teknik, misalnya dengan tujuan memperbaiki teknik telepon; atau pun seorang ahli psikologi dapat menyelidiki peranan bahasa dalam hubungan antar-pribadi.

(4) Mengenai objek lingguistik

Yang jelas sampai sekarang ialah bahwa objek lingguistik itu adalah bahasa. Bahasa lisan merupakan objek primer, sedangkan bahasa tulisan merupakan objek sekunder ilmu lingguistik. Parole (logat) merupakan objek kongkrit, langue (bahasa tertentu) objek abstrak, langgage (bahasa secara umum) adalah objek yang apling abstrak.

(5) Catatan mengenai istilah ‘’filologi’’

Sebelum Saussure, dan juga sesudahnya, istimewa di Inggris, ilmu bahasa lazim disebut “filologi” (Inggris. Philology; Prancis. Philology). Dewasa ini filologi diartikan sebagai ilmu yang menyelidiki masa kuno dari sesuatu bahasa berdasarkan dokumen-dokumen tertulis.

 

B.       Bidang – Bidang Lingguistik

(1) Pembagian ilmu lingguistik atas berbagai bidang

Di antara bidang yang dibedakan kita jumpai lingguistik antropologis, lingguistik sosiologis atau sosiolingguistik, lingguistik komputasionil, dls. Disini hanya akan diuraikan bidang-bidang dalam lingguistik saja yakni fonetik, fonologi, morfologi, sintaksis dan semantic.

(2) Lingguistik sinkronis dan Lingguistik diakronis

Kedua istilah itu berasal dari Saussure. Lingguistik diakronis adalah penyelidikan tentang perkembangan suatu bahasa. Misalnya bahasa latin 20 abad yang lalu terdiri dari beberapa dialek yang kemudian tumbuh menjadi bahasa yang berlain-lainan, yaitu bahasa Prancis, Itali, Spanyol, Portugis dll. Lingguistik sinkronis adalah penganalisaan bahasa tanpa memperhatikan perkembangan yang terjadi pada masa lampau. Yang tampak dalam analisa sinkronis adalah apa yang lazim disebut ‘’struktur’’, misalnya hubungan antara imbuhan dan dasar, hubungan antar-bunyi, hubungan antar-bagian kalimat.

(3) Analisa leksikal dan analisa gramatikal.

Dalam setiap bahasa dapat dibedakan antara tatabahasa atau gramatika dengan perbendaharaan kata atau leksikon dalam bahasa yang sama. Analisa tatabahasa atau analisa gramatikal dibedakan atas analisa leksikon atau leksikologi atau analisa leksikal. Maka dari itu dalam semantik (analisa makna) lazim dibedakan pula antara semantik gramatikal dan semantik leksikal.

(4) Fonetik, fonologi, morfologi, sintaksis

Dari keempat taraf tersebut, kedua yang terakhir (dan yang tertinggi dalam hierarki) yaitu morfologi dan sintaksis, disebut tatabahasa atau gramatika (jadi sebetulnya morfologi dan sintaksislah yang dibedakan secara prinsipil dari leksikon), sedang yang lebih rendah, yakni fonetik dan fonologi, tidak termasuk dalam tatabahasa, tidak termasuk juga dalam leksikon.

fungsionil                    tatabahasa

fungsionil                    Morfologi

Fonologi

Tidak fungsionil          Fonetik                        analisa bunyi; di luar tatabahasa

(5) Semantik

Semantik adalah cabang sistematik bahasa yang menyelidiki makna atau arti.

Makna gramatikal                   sintaksis (sebagian bermakna) tatabahasa (sebagian bermakna)

Morfologi (bermakna)

Fonologi                                   (tidak bermakna tetapi berfungsi pembeda makna)

Fonetik                                     (tidak bermakna)

Makna leksikal                        Leksikon                                 (bermakna)

(6) Lingguistik teoritis dan lingguistik terapan

Bila seorang ahli lingguistik memusatkan perhatiannya khusus pada pendirian suatu sesuatu teori, maka apa yang dikerjakannya boleh disebut lingguistik teoritis. Misalnya seorang ahli lingguistik yang member uraian teoritis tentnag kekerabatan bahasa-bahasa Austronesia dianggap telah mempunyai bahan cukup tentang system bunyi, system tatabahasa dsb, dari bahasa-bahasa itu. Sedangkan lingguistik terapan, ilmu lingguistik dan teori lingguistik itu dikerjakan bukan demi teori itu sendiri melainkan hanya sejauh menolong untuk mengatasi kesulitan atau masalah praktis diluar lingguistik itu sendiri. Misalnya bagaimana mengatasi kesulitan dalam suatu pengajaran bahasa asing.

 

B.1. Fonetik

(1) Tiga jenis fonetik

Fonetik adalah penyelidikan bunyi-bunyi bahasa tanpa memperhatikan fungsinya untuk membedakan makna. Fonetik ada tiga jenis : 1. Fonetik akustis, menyelidiki bunyi bahasa menurut aspek-aspek fisisnya sebagai getaran udara. 2. Fonetik auditoris, penyelidikan mengenai cara penerimaan bunyi-bunyi bahasa oleh telinga. 3. Fonetik organis, menyelidiki bagaimana bunyi-bunyi bahasa dihasilkan dengan alat-alat atau organ-organ bicara (organs of speech).

(2) Alat-alat bicara

(3) Cara bekerja alat-alat bicara

1. Antara pita-pita suara; yang dihasilkan adalah bunyi bersuara (voiced sounds).

2. Antara akar lidah dan dinding belakang rongga kerongkongan, hasilnya bunyi faringal; mis. [ h ].

3. Antara pangkal lidah dan anak tekak, hasilnya bunyi uvular; mis. [ r ].

4. Antara pangkal lidah dan langit2 lunak, hasilnya adalah bunyi dorso-velar; mis. [ k, g, h, C].

5. Antara tengah lidah dan langit2 keras, hasilnya bunyi medio-laminal; mis. [ ò, t, d ].

6. Antara daun lidah dan langit2 keras, hasilnya lamino-alveolar; mis. [ s, z ].

7. Antara ujung lidah dan langit2 keras, hasilnya bunyi apiko-palatal/retroflex.

8. Antara ujung lidah dan lengkung kaki gigi, hasilnya bunyi apiko-alveolar; mis. [ t, d ].

9. Antara ujung lidah dan gigi atas, hasilnya bunyi apiko-dental; mis. [ q ] dalam kata inggris thin.

10. Antara gigi atas dan bibir bawah, hasilnya bunyi labio-dental; mis. [ f, v ].

11. Antara bibir atas dan bibir bawah, hasilnya bunyi bilabial; mis. [ p, b, w ]

(4) Konsonan dan vokal

Dalam mengucapkan vokal terjadilah alur sempit antara pita suara, dan tidak ada halangan lain di tempat lain pada waktu yang sama. Konsonan ada yang bersuara, yang terjadi bila ada alur sempit di antara pita suara, dan ada yang tak bersuara, yang terjadi bila tempat artikulasi yang bersangkutan sajalah yang merupakan alur sempit sedang pita suara itu terbuka agak lebar. Ada juga bunyi semi-vokal (semi-vowels), merupakan termasuk konsonan yang kualitasnya ditentukan oleh alur sempit dan bangun mulut mis. [ j, w ]

(5) Beberapa jenis konsonan

a. Bunyi letupan (plosives, stops) – bunyi yang dihasilkan dengan menghambat arus udara sama sekali di tempat artikulasi tertentu secara tiba-tiba, sesudahnya alat-alat bicara di tempat artikulasi tersebut dilepaskan kembali.

b. Kontinuan (continuants) – semua bunyi yang bukan letupan.

c. Sengau – bunyi yang dihasilkan denganmenutup arus udara ke luar melalui rongga mulut tetapi membuka jalan agar dapat keluar melalui rongga hidung.

d. Sampingan (laterals) – bunyi yang dihasilkan dengan menghalangi arus udara sehingga keluar melalui sebelah atau biasanya kedua sisi lidah.

e. Paduan atau affrikat (affricates) – dihasilkan dengan menghambat aliran udara di salah satu tempat artikulasi dimana juga bunyi letupan diartikulasikan, lalu dilepaskan secara frikatif.

f. Geseran atau frikatif (frivatives) – adalah bunyi yang dihasilkan oleh alur yang amat sempit sehingga sebagaian besar arus udara terhambat.

g. Geletar (trills) – bunyi yang dihasilkan dengan mengartikulasikan ujung lidah pada lengkung kaki gigi, segera melepaskannya dan segera lagi mengartikulasikannya, dst.

h. Alir (liquids) – bunyi yang dihasilkan dengan terbentuknya alur sempit antara pita-pita suara dengan tempat artikulasi sedemikian rupa sehingga alur sempit yang kedua tidak ada (tidak ada bunyi frikatif)

i. Kembar atau geminat (geminates) – konsonan yang terjadi dengan memperpanjangkannya kalau bunyi itu sesuatu kontinuan atau dengan memperpanjang waktu antara implosi dan eksplosi dalam hal bunyi letupan.

(6) Semi-vokal

Semi-vokal bukan vokal yang murni, bukan pula konsonan yang murni. Tetapi praktis dianggap konsonan saja. Kwalitas semi-vokal ditentukan tidak hanya oleh tempat artikulasi tetapi juga bangun mulut atau sikap mulut.

(7) Beberapa jenis vokal

i. Menurut posisi lidah yang membentuk ruang resonansi, digolongkan atas vokal depan (front vowels), vokal tengah (central vowels), dan vokal belakang (back vowels).

ii. Menurut posisi tinggi rendahnya lidah, digolongkan menjadi vokal tinggi (high vowels), vokal madya (mid vowels), dan vokal rendah (low vowels).

iii. Menurut peranan bibir, digolongkan menjadi vokal bundar (rounded vowels) dan vokal tak bundar (unrounded vowels).

iv. Menurut lamanya pengucapan vokal dengan mempertahankan posisi alat-alat bicara yang sama, ada vokal panjang (long vowels) dan vokal pendek (short vowels).

v. Menurut peranan rongga hidung, dapat dibedakan menjadi vokal sengau (nasal vowels) dan vokal oral/mulut (oral vowels).

(8) Vokal rangkap dua

Vokal yang disebut diftong ini sering dibedakan menurut perbedaan tinggi rendahnya dari unsur-unsurnya, yaitu antara diftong yang naik (raising diphthongs) dan diftong yang turun (falling diphthong).

(9) Tulisan fonetis

Sistem tulisan fonetis yang lazim dipakai adalah sistem dari International Phonetic Association. Contoh : e dalam lonceng, ø dalam bleu (Prancis), ü dalam tu (Prancis), L dalam but (Inggris).

(10) Suku kata (silabe)

Suku kata atau silabe (syllable) adalah satuan ritmis terkecil dalam arus ujaran.

(11) Titinada

Istilah Inggris untuk titinada adalah pitch. Salah satu variasi titinada yang menyertai seluruh kalimat, atau bagian dari kalimat adalah intonasi (intonation), atau lagu (melody). Demi gampangnya analisa intonasi, maka para ahl fonetik dan fonologi memakai istilah seperti : nada “tinggi” (high), “rendah” (low), “sedang” (mid); atau tinggi rendahnya dibedakan menurut angka saja, mis. Angka 1 sampai 4, seperti pada musik (tetapi tidak sama dengan jarak di antara nada dalam musik).

(12) Tekanan dan aksen

Istilah Inggris ‘stress’ (tekanan) sering dipakai sebagai nama dari ‘accent’ (aksen), jadi stress dan accent sama. Maka dari itu mari kita bedakan, bila perlu, tekanan itu sebagai “tekanan kuat” dan “tekanan rendah”. Ada dua jenis aksen : aksen yang terlaksana dengan tekanan (stress accent / aksen tekan / aksen dinamis) dan aksen yang terlaksana dengan nada (pitch accent / aksen nada / aksen musikal). Dewasa ini para ahli menduga bahwa aksen nada lebih berhubungan dengan panjangnya bunyi silabis, dan bahwa aksen tekan lebih berhubungan dengan sonoritas silabe.

(13) Asimilasi fonetis

Yang dimaksud dengan asimilasi fonetis ialah saling pengaruh yang terjadi antara bunyi yang berdampingan (bunyi kontigu) atau antara yang berdekatan tetapi dengan bunyi lain di antaranya dalam ujaran (bunyi diskret). Misalnya : bad vokalnya lebih panjang dibandingkan dengan vokal kata bat dan sebabnya ialah bahwa bunyi [d], sebagai bunyi letupan bersuara pada akhir kata, memperpanjang vokal yang mendahuluinya.

B.2. FONOLOGI

(1)       Fonologi sebagai analisa bunyi secara “fungsionil”

Fonologi sebagai bidang khusus dalam lingguistik itu mengamati bunyi-bunyi suatu bahasa tertentu menurut fungsinya untuk membedakan makna leksikal dalam bahasa tersebut. Dengan perkataan lain fonologi dapat didefinisikan sebagai penyelidikan tentang perbedaan minimal antara ujaran-ujaran dan perbedaan minimal tersebut. Sejauh dapat dibuktikan, sesuatu bunyi yang mempunyai fungsi untuk membedakan kata dari yang lain dapat disebut sebuah fonem. Fonem dalam setiap bahasa berjumlah sekitar 20 sampai 40 saja, sedangkan bunyi “fonetis” dapat berjumlah beberapa ratus. Jumlah fonem dalam suatu bahasa disebut khazanah (perbendaharaan) fonem (inventory of phonemes). Sudah jelas bahwa “pengkhazanahan” atau inventarisasi fonem dari suatu bahasa lebih menerangkan sistematik bunyi-bunyinya daripada suatu inventaris semua bunyi “fonetis”nya, fonologi itu lebih penting daripada fonetik.

Perbedaan antara dua fonem menyangkut “oposisi” diantaranya; jadi masing-masing kata dalam pasangan minimal “dioposisikan” secara fonemis. Dalam suatu pasangan minimal oposisi tersebut adalah suatu “oposisi langsung” (direct opposition). Dalam perbedaan fonemis semacam itu lazim dikatakan bahwa memang ada suatu “oposisi” diantaranya, tetapi “oposisi tak langsung” (indirect opposition). Variasi bunyi diantara bunyi yang termasuk dalam satu fonem saja yang tidak bebas. Misalnya /t/ beraspirasi dalam top dan tidak beraspirasi dalam stop, dan tidak boleh sebaliknya. Kurung persegi “[]” dipakai untuk mengapit bunyi “fonetis”, sedangkan fonem-fonem lazimnya diapit antara garis miring “/”.

(2)       Penafsiran ekafonem dan penafsiran dwifonem

Kedua macam penafsiran dalam fonologi masing-masing disebut “penafsiran ekafonem” (monophonematic interpretation) dan “penafsiran dwifonem” (biphonematic interpretation). Contohnya kesukaran oposisi antara /ʒ/ dan /dʒ/ jarang sekali kita jumpai: yang terakhir terbukti dengan pasangan leisure /leʒə/ dan ledger /ledʒr/. Jadi beban fungsionil dari oposisi /d/-/ʒ/ begitu rendah, sehingga kesimpulannya boleh dirumuskan, dengan data-data sampai sekarang. Sebaliknya bila penafsiran ekafonem diberikan kepada /dʒ/, analogi dengan /tʃ/ menarik perhatian. Dalam hal /tʃ/ pasti penafsiran dwifonemlah yang paling tepat, karena beban fungsionil dari oposisi /t/ – /ʃ/ tinggi sekali dan /ʃ/ sendiri sering kita jumpai.

(3)       Variasi alofonemis

Fonem merupakan suatu wujud yang agak abstrak, karena secara kongkrit kita selalu mengucapkan salah satu “anggota” dari fonem yang bersangkutan. Anggota dari suatu fonem disebut alofon. Suatu alofon (allophone) adalah salah satu cara kongkrit mengucapkan sesuatu fonem. Alofon kongkrit harus menyesuaikan diri dengan lingkungannya: dengan perkataan lain, terjadilah sesuatu “asimilasi” yang disebut “asimilasi fonetis”. Variasi alofonemis tadi memang termasuk dalam fonologi, karena variasi itu menyangkut kemungkinan kongkrit terwujudnya pengucapan dari sesuatu fonem.

(4)       Asimilasi fonemis

Perbedaan antara asimilasi fonetis dan asimilasi fonemis dapat digarap dengan lebih jelas dengan diagram yang berikut:

asimilasi fonemis                                 penyesuaian fonem dengan fonem lain

bidang fonologi

jadi variasi alofonemis saja              tetapi dengan mempertahankan fonem sama

bidang fonetik            asimilasi fonetis                                   penyesuaian bunyi dengan bunyi lain

contohnya: dalam menganalisa kalimat belanda ik eet vis ‘saya makan ikan’. Fonem /v/ dari kata vis diubah menjadi fonem yang lain, yaitu /f/, akibat pengaruh fonem /t/ pada akhiran kata eet; fonem /t/ tersebut yang tak bersuara itu menyebabkan fonem /v/ yang berikutnya menjadi bersuara /f/.

(5)       Beberapa jenis asimilasi fonemis

Kita mengenal beberapa jenis asimilasi fonemis, yakni asimilasi progresif (progressive assimilation), asimilasi regresif (regressive assimilation), dan asimilasi resiprokal (reciprocal assimilation). Asimilasi resiprokal adalah akibat saling pengaruh antara dua fonem yang berurutan, yang menyebabkan kedua fonem menjadi fonem yang lain dari semula.

(6)       Asimilasi fonemis dalam beberapa bahasa

Terjadi tidaknya berbagai jenis asimilasi fonemis tergantung dari struktur bahasa masing-masing. Asimilasi fonemis sangat berbeda antara bahasa-bahasa. Umpamanya asimilasi resiprokal seperti dalam bahasa batak Toba agak jarang kita jumpai; asimilasi progresif dan regresif pun sangat biasa dalam bahasa Belanda, sedangkan dalam bahasa jerman asimilasi progresif sangat umum, tetapi asimilasi regresif hampir tidak ada. Asimilasi fonemis dapat terjadi hanya pada batas morfem bebas; termasuk dalam hal ini juga kata majemuk. Kecuali dalam bahasa Inggris. Misalnya kata blackboard tidak memperlihatkan asimilasi diantara black dan board : /k/ dari black tidak menjadi /g/ akibat kebersuaraan /b/ yang berikutnya, dan /b/ tersebut tidak menjadi /p/ akibat ketakbersuaraan /k/ yang mendahuluinya.

(7)       Asimilasi dan modifikasi vokal

Asimilasi tidak mengubah fonem dan fonem yang sama dipertahankan. Asimilasi semacam itu disebut “umlaut” yang dalam bahasa Jerman berarti ‘perubahan vokal’. Istilah tersebut menjadi istilah internasional, meskipun ada istilah lain untuk fenomena yang sama juga: “mutasi” (mutation), dan “metafoni” (metaphony). Umlaut amat sering sekali terjadi dalam bahasa Jerman, tetapi di sana merupakan asimilasi “historis” (historical assimilation). Secara ringkas umlaut sebagai asimilasi fonetis secara sinkronis kita temukan dalam kata Belanda handje: sebagai asimilasi fonemis tidak kita jumpai secara sinkronis (paling sedikit tidak dalam data-data di atas). Fenomena umlaut sebagai asimilasi, baik diakronis maupun sinkronis, selalu bersifat regresif. Kesimpulannya bahwa semua fenomena umlaut adalah pengaruh regresif. Akan tetapi para ahli lingguistik mengenal perubahan vocal yang sumbernya ada di depan dan bergerak secara progresif. Fenomena tersebut terkenal sebagai “harmoni vokal” (vowel harmony).

(8)       Netralisasi dan arkifonem

Fungsi fonem adalah membedakan makna; sebagai contoh yang sederhana dalam banyak bahasa dua fonem seperti /t/ dan /d/ dapat merupakan perbedaan minimal antara dua kata. Netralisasi selalu mengandung perpindahan identitas fonem: sesuatu fonem menjadi fonem yang lain. Hal penting dalam netralisasi ialah apakah batalnya oposisi yang bersangkutan dapat ditandai secara fonemis, dalam tulisan fonemis. Misalnya lambang /D/ tidak dapat disebut suatu “fonem” begitu saja agar jangan kesan bunyi [t] yang dihasilkan oleh netralisasi merupakan alofon dari /D/ karena /d/ dan /t/ merupakan fonem-fonem yang berbeda dalam bahasa Belanda. Karena hal tersebut para ahli fonologi mengusulkan supaya /D/ itu disebut “arkifonem” (archiphoneme), dengan fonem /t/ dan fonem /d/ sebagai anggota-anggotanya; lalu masing-masing anggota tersebut tetap berstatus fonem, bukan berstatus alofon saja.

(9)       Beberapa perubahan fonemis selain dari asimilasi dan modifikasi vokal

(a)   Hilangnya bunyi dan kontraksi

Dalam hal ini kita akan membahas mengenai Variasi bebas. “Variasi bebas” di sini berarti bahwa suatu fonem boleh diganti oleh fonem lain dalam kata tertentu, kata yang sama , yaitu tanpa adanya oposisi akibat pergantian fonem tersebut. Variasi semacam itu dapat kita temukan juga dengan penghilangan salah satu fonem, misalnya dalam kata silahkan/ silakan: fonem /X/ boleh dipakai, boleh juga tidak. Biasanya fenomena ini tidak disebut “Variasi bebas” melainkan “hilangnya bunyi” (loss of sound). Contohnya shan’t (dari shall not). Penyingkatan semacam itu disebut “kontraksi”(contraction).

(b)   Disimilasi

Disimilasi (dissimilation) terjadi bila dua bunyi yang sama karena berdekatan letaknya berubah menjadi tak sama. Misalnya dalam kata Indonesia belajar bentuk berajar dihindarkan karena dalam ajar sudah ada /r/, jadi tidak terdapat lagi dalam prefiks ber-, yang /r/-nya disimilasikan dengan /r/ dari ajar menjadi konsonan tidak sama dengannya, yaitu /l/. contoh ini adalah contoh disimilasi sinkronis.

(c)    Metatesis

Gejala perubahan bunyi lain disebut “metatesis”. Metatesis terjadi bila sebuah bunyi bertukar tempat dengan bunyi yang lain, misalnya brantas di samping bantras, jalur di samping lajur, kerikil di samping kelikir. Metatesis ini bersifat sinkronis dan boleh saja dipandang sebagai sesuatu hal “Variasi bebas”.

(10)  Fonem-fonem suprasegmental

Dalam bahasa ada pula bunyi-buyi tertentu yang tidak berupa segmental, yakni terdapat sekaligus dengan satu silabe atau frase. Yang dimaksud ialah:

(a)   Titinada sebagai pembeda makna leksikal

Berdasarkan pembedaan antara phonetic dan phonemic dalam peristilahan Inggris, para ahli lingguistik telah menciptakan istilah tonetic dan tonemic, untuk membedakan antara apa yang fonetis dalam “tone” itu, dan apa yang fonemis di dalamnya. Bila suatu tekanan dalam bahasa tertentu lazimnya disertai dengan nada yang lebih tinggi, maka nada tersebut adalah tonetis saja; mungkin saja tidak ada suatu bahasa dimana pengertian semacam itu mutlak perlu: para ahli lingguistik belum banyak menyelidiki mengenai masalah tersebut.

(b)   Titinada dalam intonasi

Intonasi dapat menyatakan suatu modus penutur, misalnya bahwa ia marah, atau kecewa, atau kurang sabar. Dalam hal modus tersebut tidak selalu mudah membedakan antara yang fonemis and yang fonetis dalam intonasi. Bila intonasi menyatakan sesuatu modus penutur yang tak ada hubungannya dengan apa yang dinyatakan dalam kalimat yang diberi intonasi itu, maka pastilah fonetis sajalah sifat intonasi itu.

(c)    Tekanan

Tekanan tidak sama dengan aksen. Apakah kerasnya yang lebih kuat itu disertai oleh nada yang lebih tinggi tidak penting. Yang penting ialah bahwa tekanan dipakai untuk menghasilkan kontras. Maka dalam hal ini tekanan pasti bersifat fonemis, bukannya fonetis.

(d)   Aksen

Aksen sudah lama dikenal para ahli lingguistik sebagai pembeda makna leksikal dalam banyak bahasa. Misalnya dalam bahasa Inggris kata /’impɔ:rt/ import ‘barang yang diimpor’ (tanda ‘ dipakai utuk melambangkan aksen, dan diletakkan di depan silabe yang diberi aksen) dibedakan dari kata /’impɔ:rt / import ‘mengimpor’ hanya dengan aksen saja. Aksen dibedakan menjadi aksen naada dan aksen tekanan.

 

 

 

 

B.3. MORFOLOGI

(1)       Morfologi itu apa?

Morfologi adalah bidang lingguistik yang mempelajari susunan bagian-bagian kata secara gramatikal. Tambahan “secara gramatikal” dalam definisi ini mutlak, karena setiap kata juga dapat dibagi atas segmen yang terkecil yang disebut fonem itu, tetapi fonem-fonem tidak harus berupa morfem. Misalnya, kata Medan terdiri atas lima fonem, tetapi kata itu sendiri atas satu morfem saja. Contoh analisa morfologis, dalam bahasa Inggris kita temukan proses morfemis. Misalnya, push ‘dorong’, pushes, pushing, pusher, pushers.

 

(2)       Morfem bebas dan terikat; dasar dan imbuhan, kontinu dan diskontinu

Morfem lazimnya dibedakan sebagai morfem bebas (free morpheme) dan morfem terikat (boud morpheme). Morfem bebas dapat “berdiri sendiri”, yaitu bisa terdapat sebagai suatu “kata”, sedang morfem terikat tidak terdapat sebagai kata tetapi selalu dirangkaikan dengan satu atau lebih morfem yang lain menjadi satu kata. Misalnya kata cinta, makan, dan satu adalah morfem bebas, sedangkan ber- atau  memper- terdapat hanya sebagai bagian kata dan terikat.

Selanjutnya morfem-morfem dibedakan sebagai morfem asal dan morfem imbuhan. Misalnya dalam kata berlibur morfem libur adalah morfem asal dan ber- adalah morfem imbuhan. Suatu pembedaan penting dalam hal morfem terikat ada pula diantara morfem utuh (continuous morpheme) dan morfem terbagi (discontinuous morpheme). Morfem imbuhan terbagi terdapat bila bentuknya dibagi menjadi dua atau lebih bagian yang berjauhan secara linear; misalnya ber- sama dengan –kan merupakan satu morfem saja.

(3)       Kata dan struktur morfemis kata

Kita harus menganalisa kata menurut struktur morfem yang terdapat di dalamnya. Tentu saja sebuah kata dapat terdiri atas satu morfem saja: contohnya, meja, perosok, halus, zat. Kata yang demikian disebut “monomorfemis” (monomorphemic word). Kata yang terdiri lebih dari satu morfem disebut “polimorfemis” (polymorphemic word). Sebuah kata dapat terdiri atas morfem asal + morfem asal dan struktur tersebut disebut kata majemuk.

(4)       Variasi alomorfemis

Variasi alomorfemis diuraikan menjadi dua:

  1.    Yang berdasarkan kaidah-kaidah morfofonemis yang dalam bahasa Inggris disebut morphophonemic rules, atau morphophonological rules atau morphonological rules. Sebagaimana sudah nampak di istilah “morfofonemis”, kaidah-kaidah yang diberi nama itu adalah kaidah morfemis dan fonemis sekaligus. Contohnya: membuat, melamun, menghambat. Bentuk asalnya masing-masing adalah buat, lamun, dan hambatan, jadi “tinggal” alomorfem yang masing-masing berbentuk mem-, me-, meng-.
  2. Yang berdasarkan kaidah-kaidah alomorfemis yang lain yang tidak berupa morfofonemis yang jelas tampak dari imbuhan lazimnya yang disebut imbuhan “tak teratur”. Misalnya meskipun kaidah “teratur” untuk jamak kata benda dalam bahasa Inggris membedakan antara tiga akhiran saja, yaitu /s/, /z/, dan /ɪz/, namun kita mengenal juga contoh seperti child-children (tambah -/rən/), ox-oxen (tambah -/ən/). Tentu saja variasi alomorfemis tersebut tidak berdasarkan alasan-alasan fonemis. Variasi alomorfemis ditentukan oleh kaidah alomorfemis. Sebagian dapat disebut kaidah “morfofonemis” dengan alasan bahwa untuk sebagian besar kaidah semacam itu diatur oleh sesuatu penyesuaian diantara fonem yang berdekatan akibat perangkaian morfem-morfem bersangkutan; tetapi tidak seluruhnya.

 

(5)       Morfem, morf, dan alomorf

Sudah jelas bahwa morfem itu padaa umumnya berwujud abstrak. Morfem terikat yang bersangkutan dapat kita rumuskan sebagai {mə(N)-}; kurung kurawal lazim dipakai untuk mengapit sebuah morfem bila penandaan itu perlu atau berguna. Unsure abstrak adalah symbol N yang menyatakan adanya nasalisasi, dan kurung biasa yang mengapit symbol tersebut untuk menyatakan bahwa penyengauan tadi tidak selalu direalisasikan. Kaidah-kaaidah morfofonemisnya masih memiliki unsure konkrit secara fonemis, yaitu adanya suatu sibilant. Satu-satunya cara untuk merumuskan morfem penjamakan kata benda dalam bahasa Inggris seharusnya adalah: {jamak}, atau entah sembarang symbol yang lain (misalnya{J}) yang kita kehendaki, asalkan realisasi alomorfemis tidak tampak dalam bentuk fonemis, karena dasar umum fonemis untuk semua alomorf morfem {jamak} tersebut tidak ada. Morf sebetulnya tidak lain dari salah satu bentuk alomorfemis dari suatu morfem, tetapi bentuk yang hendak dipilih dianggap mewakili secara kongkrit morfem yang bersangkutan. Istilah “morf” dipakai demi manfaat praktisnya. Misalnya bila kita menguraikan morfologi kala lampau kata kerja inggris, maka, sesuai dengan asas-asas di atas (dimana morfem penjamakan kata benda dalam bahasa inggris dilambangkan sebagai {jamak}), dapat kita pakai pelambangan {lampau} misalnya. Tetapi seringkali hal itu tidak praktis; lebih gampang memakai pelambangan {-id} saja (atau malah dalam bentuk otografisnya, yaitu {-ed}), walaupun hal itu kurang cocok dengan pembentukan waktu lampau kata kerja “kuat” (strong verb), misalnya bila go menjadi went.

 

(6)       Asimilasi morfofonemis

Konsep asimilasi dalam istilah “asimilasi morfofonemis” lebih luas daripada asimilasi fonetis dan asimilasi fonemis. Dalam asimilasi fonetis ada penyesuaian suatu bunyi pada suatu bunyi yang lain, tetapi identitas fonem dipertahankan, jadi perubahan yang bersangkutan terjadi sebagai variasi alofonemis saja. Asimilasi morfofonemis terdapat pada batas morfem saja, dan sedemikian rupa sehingga satu dari morfem yang berdampingan itu adalah morfem imbuhan.

(7)       Beberapa jenis morfem; proses morfemis

Kita dapat membedakan morfem-morfem juga menurut proses mana yang dapat dihasilkan dengannya. Morfem-morfem yang dapat dipakai untuk proses tersebut ialah: (a) afiks; (b) klitika; (c) modifikasi intern; (d) reduplikasi; (e) komposisi. Nama proses yang dihasilkan adalah: (a) afiksasi; (b) klitisasi; (c) modifikasi intern; (d) reduplikasi; (e) komposisi. Untuk (c) sampai (d) dapat dipakai sebagai nama proses. Nama proses “klitisasi” tidak lazim digunakan para ahli lingguistik.

(8)       Afiksasi

Afiksasi (affixation) adalah penambahan dengan afiks (affix). Afiks itu selalu berupa morfem terikat, dan dapat ditambah pada awal kata (prefiks; prefix) dalam proses yang disebut prefikasi (prefixation), pada akhir kata (safiks; suffix) dalam prosses yang disebut sufiksasi (suffixation), untuk sebagian pada awal kata serta untuk sebagian pada akhir kata (konfiks, ambifiks, atau simulfiks; confix, ambifix, simulfix) dalam proses yang disebut konfiksasi, ambifiksasi atau simulfiksasi (confixation, ambifixation, simulfixation), atau di dalam kata itu sendiri sebagai suatu “sisipan” (infiks; infix) dalam proses yang disebut infiksasi (infixation). Proses afiksasi amat berbeda-beda dalam berbagai bahasa. Prinsipnya selamanya konfiks tidak sama dengan prefiks plus sufiks.

(9)       Klitisasi

Istilah klitika jarang dipakai, biasanya kita temukan istilah proclitic, enclitic. Proklitika adalah klitika pada awal kata, dan enklitika terdapat pada akhur kata. Istilah klitika (pro- dan en-) sering dipakai untuk menyebutkan kata-kata singkat yang tidak beraksen dan oleh karena itu selalu harus ‘bersandar’ pada suatu kata yang beraksen sebagai kokonstituennya. Menurut pengertian ini suatu klitika paling sedikit bisa berupa kata, jadi morfem bebas. Dalam pengertian kita di sini klitika adalah selalu morfem terikat. Sebagai contoh klitika dalam bahasa Indonesia: akhiran –lah, -kah, dan –pun.

(10)  Modifikasi intern

Istilah “modifikasi intern” dipinjam dari istilah Inggris internal modification. Yang dimaksudkan di sini ialah perubahan vocal, misalnya dalam proses morfemis kata-kata Arab tertentu. Modifikasi demikian kita temukan pula dalam banyak bahasa Indo-Eropa, dalam kata kerja “kuat” misalnya, seperti dalam bahasa Inggris: sing-sang-sung, take-took-taken, dan lainnya. Alasan untuk menolak penafsiran modifikasi intern sebagai proses morfemis dalam contoh-contoh tadi cukup meyakinkan. Seandainya kita tafsirkan demikian, maka secara konsekwen harus kita simpulkan pula bahwa ada morfem akar m-nd-r, b-l-k, -ayur, dan untuk hal itu tidak ada paralel dalam morfologi bahasa Indonesia.

(11)  Reduplikasi

Proses reduplikasi (reduplication) terdapat dalam banyak sekali bahasa, meskipun dalam bahasa “tipe” tertentu hamper tidak kita jumpai. Konstituen yang dikenal reduplikasi dapat monomorfemis, dapat polimorfemis juga: meja-meja, kebun-kebun, ancaman-ancaman, perkecualian-perkecualian, dan lainnya. Reduplikasi seperti itu disebut reduplikasi penuh (full reduplication): seluruh bentuk asal direduplikasikan.

Dalam lingguistik Indonesia sudah lama lazim dipakai sekumpulan istilah sehubungan dengan reduplikasi dalam bahasa Sunda dan bahasa Jawa:

(a)     dwilingga, yakni pengulangan morfem asal, misalnya: meja-meja ‘meja-meja’, mlaku-mlaku ‘berjalan-jalan’.

(b)     dwilingga saling swara, yaitu pengulangan morfem asal dengan perubahan fonem, misalnya: bola-bali ‘bolak-balik’.

(c)     dwipurwa, yakni pengulangan pada silabe pertama, misalnya: bahasa Sunda lalaki ‘lelaki’, papacang ‘tunangan’.

(d)    dwiwasana, yakni pengulangan pada akhir kata, misalnya: Jawa cenges ‘tertawa’ menjadi cengenges ‘selalu tertawa’.

(e)     trilingga, yaitu pengulangan morfem asal dua kali, misalnya: Sunda dag-dig-dug ‘was-was’ (dalam Dialek Melayu Jakarta juga demikian), dag-deg-dog ‘kerusuhan’.

 

(12)  Komposisi

Komposisi adalah perangkaian bersama-sama dua morfem asal yang menghasilkan satu kata. Seperti sudah diuraikan di atas kata majemuk terdiri atas dua atau lebih morfem asal.

(13)  Afiksasi dan paradigma

Afiksasi sering dikatakan menghasilkan suatu “paradigma”. Paradigma adalah daftar lengkap perubahan afiksasi yang mungkin dengan morfem asal yang sama. Dalam ilmu lingguistik ada dua pengertian mengenai paradigma tadi: (a) Semua perubahan afiksasi yang mempertahankan identitas kata; (b) semua perubahan yang melampaui identitas kata. Misalnya dalam hal (a) terdapat mengajar, diajar, ajar, mengajarnya, diajarnya, kuajar, kauajar, dan boleh dikatakan bahwa semua hasil afiksasi tersebut tidak meninggalkan identitas kata, yang kita identitaskan lazimnya dengan memilih bentuk yang berawalan /mə(N)-/: dalam hal ini mengajar. Pengertian (b) tentang istilah “paradigma” sudah tidak begitu umum lagi dan lebih lazim pengertian (a) dipakai. Jadi pengertian istilah “paradigma” disempit dengan cara itu, karena daftar lengkap perubahan afiksasi menurut cara (b) jauh lebih panjang daripada daftar yang dihasilkan dengan cara (a).

(14)  Fleksi dan derivasi

Istilah “fleksi” atau “infleksi” berarti semua perubahan paradigmatic yang dihasilkan dengan proses morfemis manapun, entah dengan afiksasi, modifikasi intern, entah dengan reduplikasi yang parsial; variasi paradigmatic dengan reduplikasi penuh tidak lazim disebut fleksi. Derivasipun tidak harus terjadi dengan proses afiksasi saja, karena modifikasi intern atau reduplikasi dapat dipakai juga. Infleksi afiksasionil terbatasi pada paradigma itu. Semua proses afiksasi yang lain termasuk derivasi. Berbeda dari kaidah fleksi, kaidah derivasi merupakan kaidah berurutan. Misalnya kata mengajar diderivasikan dari morfem asal ajar, tetapi pengajar diderivasikan dari mengajar dulu, dan baru melalui mengajar dari ajar. Akhirnya proses fleksi lazimya diberi nama khusus menurut kelas kata yang mengalami prose situ. Fleksi kata kerja disebutg “konyugasi” (conjugation) dan fleksi kata benda, kata sifat dan kata ganti disebut “deklinasi” (declination).

(15)  Produktivitas

Proses morfemis dibagi atas yang “produktif” (productive) dan yang tidak produktif (nonproductive). Proses morfemis dikatakan produktif bila dapat diterapkan pada konstituen yang tidak lazim, atau belum pernah mengalaminya, dan proses tersebut dikatakan bersifat tidak produktif bila tidak dapat diterapkan pada konstituen yang belum pernah mengalaminya. Proses morfemis yang tidak produktif menghasilkan suatu daftar “tertutup” (closed list), dan proses produktif menghasilkan suatu daftar “terbuka” (open list).

(16)  Beberapa istilah tambahan

Dalam proses paradigmatic biasanya ada beberapa “makna” yang dinyatakan oleh perubahan paradigmatis itu. Di sini disebutkan: jumlah (number), orang (person), jenis (gender), kala (tense), diatesis (voice, atau diathesis), aspek (aspect), modus (mood), kasus (case). Jumlah dibedakan sebagai tunggal (singular), jamak (plural) dan dual (aksenkan pada silabe kedua) (dual). Orang dibagi atas orang pertama, kedua, dan ketiga (first person, second person, third person), dan dalam banyak bahasa (termasuk bahasa Indonesia) orang pertama jamak terdiri atas jamak eksklusif (exclusive) dan jamak inklusif (inclusive). Jenis ada bermacam-macam: dalam beberapa bahasa Indo-Eropa dibedakan maskulin (maculine), feminine (feminine) dan neutrum (neuter), tetapi dalam bahasa tertentu ada jauh lebih banyak. Bila kala terdapat dalam suatu bahasa, sering kita temukan kala sekarang (present), kala lampau (past), kala yang akan datang (future). Diatesis sering sekali dibedakan atas aktif (active) dan pasif (passive), tetapi ada beberapa bahasa yang memiliki diatesis medial (middle voice atau medium). Aspek terdapat sebagai eventif (eventive), progresif (progressive) dan inkhoatif (inchoative). Modus terdapat sebagai indikatif (indicative) dan konyungtif atau subyungtif (conjunctive; subjunctive).

 

B.4. Sintaksis, Fungsi, Kategori, Peran

1.            sintaksis itu apa?

Secara etimologi sintaksis berarti menempatkan bersama-sama kata-kata menjadi kelompok kata atau kelompok-kelompok kata menjadi kalimat. Bidang sintaksis menyelidiki semua hubungan antar kata dan antar kelompok kata dalam kalimat.

2.            fungsi, kategori, peran

seperti yang telah kita tahu mngenai : subjek, obyek, predikat kata benda, kata kerja, pelaku, penderita, dll. Subyek, prdikat, obyek dan keterangan sebagai fungsi. Kata benda, kata kerja, kata sifat kata depan adalah sebagai kategori. Pelaku,penderita penerima,aktif dan pasif adalah peran. Seperti pada kalimat dibawah ni:

1.      ayah membeli beras ketan untuk saya

2.      ayah membelikan saya beras ketan.

3.      beras ketan dibeli ayah untuk saya.

4.      saya dibelikan beras ketan oleh ayah.

Sebuah obyek mari kita tentukan, adalah suatu fungsi. Sedangkan penerima dan penderita adalah peran. Yang menentukan fungsi manakah dalam kalimat pasif dapat dijadikan subyak kalimat pasif hanyalah merupakan sesuatu yang fungsionil saja: jadi obyek. Maka dari itu saya dalam kalimat 2 merupakan obyek satu-satunya, sedangkan beras ketan adalah keterangan. Sebaliknya dalam kalimat 1 obyeknya adalah beras ketan ( jadi kontituen itulah yang menjadi subyek kalimat pasifnya, yakni kalimat 3) dan dalam kalimat 1 dan 3 konstituen untuk saya adalah keterangan. Dalam pemasifan sebuah kalimat yang berubah ialah fungsi bukan peran (kecuali kata kerja yang dari aktif berubah menjadi pasif). Jadi fungsi harus dibedakan dari peran, dan kedua-duanya dari kategori. Analisa kategori dari keempat kalimat tadi tidak begitu banyak memunculkan kesulitan; paling sedikit tidak mudah dikacaukan. Dengan fungsi, juga tidak dengan peran.

3.      hubungan antara tataran fungsi, tataran kategori, dan tataran peran

dalam contoh kalimat Ayah pergi subyeknya ialah ayah. Jika kita katakana bahwa Ayah adalah adalah sebai pelaku? Ya memang begitu, namun pelaku adalah peran, bukan fungsi. Atau jika kita katakan Ayah adalah kata benda; betul, tetapi kata benda menun jukkan sebuah kategori bukan fungsi. Kesimpulannya, di tempat subyek terdapat suatu konstituen yang berarti sesuatu, secara leksikal, dan secara gramatikal sebagai peran. Fungsi-fungsi itu sendiri tidak memiliki bentuk tertentu tetapi harus diisi dengan bentuk tertentu, yaitu suatu kategori. Fungsi-fungsi itu juga tidak memiliki makna tertentu, tapi harus diisi dengan makna tertentu yaitu peran. Jadi setiap fungsi, dalam kalimat konkrit adalah tempat kosong yang harus diisi oleh dua pengisi yaitu pengisi kategorial (menurut bentuknya) dan pengisi semantis (menurut perannya). Misalnya bukan *he ill tapi he is ill.

4.      catatan mengenai “pokok” dan “sebutan”

pokok berarti sesuatu yang tentangnya kita menyabutkan sesuatu, sedangkan sebutan itu adalah apa yang kita sebutkan tentang pokok tadi. Kebanyakan kalimat mengandung pokok dan sebutan. (ahmad sudah datang) pokok dari kalimat tersebut adalah ahmad, karena mengenai dia kita ingin menyebutkan sesuatu. Dan kedatangannya ialah apa yang hendak kita sebutkan mengenai ahmad tadi. Tetapi ada kemungkinan juga bahwa pokok adalah kedatangan seseorang, sedang sebutan terdiri atas penyebutan siapa seseorang tadi (yang sudah datang adalah ahmad).

    1. john (pokok) does not want to leave (sebutan)
    2. that book (pokok) I have never read (sebutan)

meskipun pokok iu sering sama dengan subyek kalimat. Namun hal tersebut tidak harus demikian, dalam contoh inggris tadi pokoknya pastilah that book, tapi that book bukanlah subyek kalimat melainkan obyek kalimat. Maka dapat kita simpulkan, pokok dan sebutan tidak termasuk dalam struktur fungsionil, atau tataran dari apapun sintaksis. Kedua konsep tersebut sama sekali tidak gramatikal, meskipun memang masing-masing dapat direalisasikan secara gramatikal, dan fonemis pula.

5.      fungsi sintaksis; soal peristilahan

pasal ini kita mulai dengan persoalan peristilahan yang beberap soal berhubungan dengan nya, soal yang bersangkutan sifatnya tidak terminologis. Perbedaan terminologis yang ada dapat dibagi menjadi 4 macam pembagian:

1.      kalimat dibagi ata susbyek dan predikat; lalu predikat itu dibagi lebih lanjut lagi atas predikat verbal, obyek, dan keterangan; ahirnya keterangan dapat dibagi lagi atas beberapa keterangan.

2.      kalimat dibagi atas subyek, predikat, dan keterangan; lalu keterangan dibagi lagi atas obyek dan keterangan waktu, tempat, dls.

3.      kalimat dibagi atas subyek, predikat, dan pelengkap, lalu pelengkap dibagi lagi atas obyek dan keterangan, dan keterangan dibagi lagi atas keterangan waktu, keterangan tempat dll.

4.      kalimat dibagi atas subyek, predikat, obyek da keterangan, sedang keterangan itu sendiri dibagi lagi atas keterangan tempat, keterangan waktu dsb.

Beberapa masalah lain mengenai istilah adalah obyek yang sering dbagi mnjadi obyek langsung dan obyek tak langsung. Dan ada pula yang disebut sebagai obyek berkata depan.

6.      fungsi sintaksis; hubungan di antaranya

formilnya suatu fungsi sintaktis mencakup dua cirri: kekosongan dan relasionalitas. Dan hal itu masuk akal: bila sesuatu konstituen adalah kosong sendiri, tidak punya isi sendiri, identitasnya perlu ditentukan oleh relasi dengan konstituen yang lain. Maka dari itu relasionalitas fungsi-fungsi sintaksis termasuk hakekatnya. Relasionalitas tersebut dalam linguistik umum dikenal sebagai cirri khas bahasa. Relasionalitas tersebut dapat dijelaskan bila kita bandingkan fungsi dengan kategori. Suatu kategori tidak memiliki relasionalitas seperti halnya dengan fungsi.

7.      fungsi bawahan

tepatnya nama fungsi bawahan “penguasa dan “pembatas” dalam penerapannya yang lebih luas disbanding dengan pemakaian tradisionalnya ternyata juga bila kita terapkan pada pemakaian kasus dalam bahasa-bahasa kasus. Misalnya bila suatu frase terdiri atas kata benda dan kata sifat kita analisa sebagai penguasa (kata benda) dan pembatas (kata sifat) . pandangan konstituen frase sebagai fungsi (bawahan) mengandung juga konsekwensi teoritis: fungsi bawahan pun adalah “gatra” yang harus “diisi” dengan kategori tertentu menurut bentuknya.

8.      fungsi “inti” dan fungsi “luar inti” (atau “sampingan”)

lazimnya subyek dan predikan disebut sebagai fungsi “inti” dan semua fungsi yang lainnya disebut dengan “ luar inti”. Untuk menentukan fungsi-fungsi tersebut kita ambil contoh dari kalimat konkrit. Disamping fungsi inti dan fungsi sampingan, juga terdapat fungsi tambahan yang belum kita kenal ciri-cirinya. Fungsi keterangan itu kadang-kadang merupakan fungsi inti dan kadang-kadang merupakan fungsi sampingan.

9.      fungsi dan konstituen kalimat

hingga kini semua konstituen sebagai pengisi kategorial fungsi dalam contoh-contoh diatas berupa konstituen segmental. Tetapi tidak selalu harus begitu. Karena di satu pihak ada konstituen kalimat yang sama sekali tidak termasuk fungsi apa pun, di pihak lain ada fungsi yang tidak segmental dengan batas segmen yang jelas. Yang tidak termasuk analisa fungsionil adalah kata sambung seperti dan, walaupun, atau, dsb. Tempat gramatikalnya tidak dapat ditentukan secara fungsionil. Bila konstituen yang mengisi fungsi tertentu bersifat segmental, segmen yang bersangkutan dapat terdiri dari satu kalimat (bawahan), frase, kata, ataupun morfem terikat. Hubungan fungsionil antara subyek dan predikat dalam struktur-struktur semacam itu direalisasikan secara morfemis belaka, dan hanya fungsi disini yang termasuk sintaksis.

10.  kategori sintaksis: soal peristilahan; asal teori mengenai kategori

dalam tatabahasa tradisionil terdapat 10 kategori, atau kelas kata dibedakan sebagai berikut:

1.            kata benda (noun)

2.            kata kerja (verb)

3.            kata ganti (pronoun)

4.            kata sifat (adjective)

5.            kata bilangan (numeral)

6.            kata sandang (article)

7.            kata keterangan (adverb)

8.            kata depan (preposition)

9.            kata sambung (conjunction)

10.        kata seru (inteejection)

hanya dua dari kategori tersebut yang berasal dari filsafat yunani kuno yakni kata benda dan kata kerja. Teori tradisionil tentang kelas kata ini hanya berdasarkan beberapa bahasa indo-eropa.

11.  kategori sintaksis: menuju teori umum tentangnya; kategori bawahan dan atasan

kategori sintaksis dapat dibagi menjadi 3 tataran: kategori atasan, kategori, dan kategori bawahan. Sebagai kategori bawahan dapat dipandang misalnya kata kerja transitif dan kata kerja intransitive, karena kedua-duanya termasuk dalam golongan kata kerja. Unsure-unsur yang sudah menjadi tradisionil adalah: kata ganti, kata sifat, dan kata benda berupa nominal adalah kategori atasan.

12.  adakah hubungan antara kategori sintaktis dan semantic lekssikal?

Hubungan diantaranya belum diselidiki.

13.  peran sintaktis; asal dan dasar teori tentang peran

peran sintaksis memiliki 3 bagian yaitu:

a.           tata bahasa tradisional

dengan sebutan “tatabahasa tradisionil” dimaksudkan periode sebelum munculnya linguistic modern, jadi periode sebelum abad ke-20. adanya peran memang disadari umum, tetapi tidak diberi nama khusus yang membedakan dari fungsi sintaktis, sedangkan nama khususnya yang memang berdasarkan adanya peran tertentu dipindahkan ke penamaan sistim paradigmatic morfemis yang disebut system kasus.

b.      aliran strukturalisme

dalam aliran ini muncullah pengertian “focus kata kerja”. Focus kata kerja itu sudah ditemukan oleh Bloomfield. Yang dimaksud ialah bahwa bentuk morfemis kata kerja dapat menyesuaikan diri dengan peran tertentu sebagai pengisi semantic pada fungsi subyek. Dalam banyak bahasa indo-eropa struktur peran menyebabkan bentuk kategorial di tempat subyek, obyek dan keterangan menyesuaikan diri dengan peran yang terdapat di tempat fungsi-fungsi tsb. ; bentuk kategorial itu berupa nominal (system kasus)

c.         aliran tatabahasa kasus

tatabahasa kasus terpengaruh oleh fakta bahwa peran sintaktis disertai bentuk kategorinya berupa kasus dalam bahasa. Tatabahasa kasus tidak diuraikan disini karena teorinya teralu banyak mengandung hal teoritis lain yang teralu sulit.

14.  peran sintaktis; soal peristilahan; beberapa contoh

sehubungan dengan peran-peran sintaktis kita memakai nama-nama seperti; pelaku, penerima, tujuan. Istilah-istilah itu seharusnya dilengkapi dengan yang lain, seperti tindakan, pengalaman, keadaan, dls. Lebih tepat bila istilah pelaku diganti dengan “agentive” karena menyatakan sesuatu yang semantic, seperti seharusnya terjadi dalam hal peran sintaktis. Beberapa contoh untuk istilah yang tidak lazim dipakai, tetapi dipai dalam uraian ini:

nama ekstralingual:

1.      tindakan (action)

2.      pengalaman (passion*)

3.      tindakan refleksi (reflexive action)

4.      keadaan (state)

5.      hubungan (copula)

nama lingual:

1.      aktif (active)

2.      pasif (passive)

3.      medial (medium)

4.      statif (stative)

5.      kopulatif (copulative)

15.  peran sintaktis; peran atasan dan bawahan; perbandingan dengan fungsi

seperti halnya dalam fungsi, peranpun bersifat rasionil: agentif tidak berarti tanpa aktif, bila agentifnya terdapat ditempat subyek atau tanpa pasif bila agentifnya berada di tempat di tempat keterangan; sebaliknya aktif tidak berarti tanpa agentif, pasif tidak berarti tanpa suatu “finitif”. Secara teoritis peran adalah pengisi semantic terhadap fungsi. Tetapi dalam kalimat kongkrit mungkin terdapat pengacauan antara fungsi dan peran. Pada bahasa Indonesia lebih mementingkan struktur peran daripada struktur fungsi, sedangkan dalam bahasa inggris dikuasai oleh struktur fungsi lebih daripada struktur peran.

 

B.5. Masalah Tambahan dalam Sintaksis

1.      beberapa masalah lain dalam sintaksis

bidang sintaksis begitu luas sehingga banyak soal-soalnya seperti predikat dan sifat-sifatnya dalam beberapa tipe bahasa, pertumpuan antara sintaksis dan morfologi, struktur sintaksis yang melampaui batas kalimat tunggal.

2.      masalah kata kopulatif

dalam bahasa inggris kopulatif haruslah berupa verbal namun dalam bahasa Indonesia ada kata kopulatif yang bukan verbal. Misalnya kata “adalah”. Kata adalah menandai permulaan predikat namun kata tsb bukanlah verbal. Kata kopula harus digunakan untuk menandai permulaan kata predikat.

3.      ketransitifan

transitifitas berhubungan dengan fungsi, kategori dan peran. Dengan fungsi karena transitivitas adalah suatu “peralihan” dari predikat ke obyekny: dengan kategori tertentu sebagai pengisi predikat, yaitu kata kerja, dapat disebut transitif; ahirnya dengan peran, karena hanyalah bentuk aktifnya yang dapat dirangkaikan dengan obyek. Semua itu menurut teori linguistic tradisionil. Kata kerja transitif sering dipakai tanpa obyek, pemakaian yang demikian disebut dengan pemakaian secara absolute, artinya suatu kata kerja transitif terlepas dari obyeknya. Pemakaian kata kerja transitif secara absolute ini berbeda-beda antara bahasa satu dengan yang lainnya. Dalam bahasa inggris kata kerja transitif dipakai secara absolute dengan pengertian obyek yang tidak disebutkan itu menunjukkan hal yang sama dengan yang ditunjukkan subyek, sehingga peran kata kerja yang bersangkutan adalah “medial”.

4.      persesuaian dan penguasaan

dalam bahasa-bahasa yang banyak memakai kasus persesuaian dan penguasaan urutan kontituen dalam kalimat agak bebas. Karena pemakaiannya sesuai dengan kaidah persesuaian dan penguasaan mencegah terjadinya salah tafsir gramatikal: misalnya, apa yang dianggap subyek ditandai dengan kasus nominative, apa yang merupakan obyek langsung ditandai dengan kasus akusatif, apa yang merupakan obyek taklangsung ditandai dengan kasus datif.

5.      frase dan kata majemuk

analisa frase termasuk ke dalam sintaksis karena menyagkut hubungan antar-kata. Frase juga termasuk morfologi karena morfem terikat dapat dirangkaikan dengan kokonstituen yang terdiri atas dua kata atau lebih. Konstituen kata majemuk biasanya disebut “komponen”nya. Kata majemuk dibedakan atas dua jenis : yang komponenya berurutan dengan cara yang terdapat juga dalam frase, jadi menurut kaidah urutan sintaktik; dan yang komponennya berurutan dengan cara yang tidak mungkin menurut kaidah urutan konstituen sintaktis. Jenis pertama disebut “kata majemuk sintaktis” (syntactic compound)dan jenis kedua disebut kata majemuk asintaktis (asyntactic compound).

6.      masaalah derivasi morfemis

bila suatu kata diderivasikan dari kata kerja, kata yang diderivasikan itu disebut “deverbal”, misalnya kata “pengetahuan” diderivasikan menjadi kata “mengetahui”, maka kata pengetahuan adalah kata deverbal. Kita jumpai juga istilah “deverbative”, dan daripada denominal kita temukan juga istilah “denominative”. Masalah lainnhya yaitu dalam hal urutan kaidah-kaidah derivasi.

7.      kalimat majemuk

kalimat mejemuk termasuk bahan sintaksis. Disebut kalimat majemukkarena terdiri atas lebih dari satu konstituen yang berupa kalimat sendiri. Demi keteraturan peristilahan lebih baik konstituen-konstituen tsb. Disebut dengan klausa. Suatu klausa berupa klausa bawahan atau klausa atasan. Dalam bahasa inggris dsbt compound sentence/ composite sentence, yang terdiri dari dua atau lebih clausa, dan clauses itu dibedakan atas head clause dan subclause. Dalam bahasa indonesia disebut dengan “induk kalimat” atau kalimat induk, kalimat takluk atau “anak kalimat”, dan kalimat mandiri lebih baik tidak dipakai, karena tidak membedakan antara kalimat tunggal (simple sentence) dan klausa dalam kalimat majemuk. Hubungan antara dua atau lebih klausa atasan membentuk kalimat disebut koordinatif dan hubungan antara klausa atasan dengan klausa bawahan yang tergantung daipadanya disebut dengan subordinatif.

8.      analisa wacana

analisa wacana (discourse analysis) sering juga disebut text linguistics adalah analisa yang menentukan hubungan-hubungan yang terdapat antara kalimat-kalimat utuh (majemuk atau tunggal) dalam suatu teks yang utuh (misalnya pada keterangan surat kabar atau pun suatu roman seluruhnya).

B.6. Teknik Analisa Sistematis

 

1.      Mengapa Bab Ini?

Sesuai apa yang di katakan dahulu, semua tataran sistematik bahasa , yakni: Fonetik, Fonologi, Morfologi, dan Sintaksis sudah diuraikan prinsip – prinsip dan cara- cara menganalisanya kecuali Semantik yang akan diuraikan Bab IX.

Ada beberapa gejala yang terdapat pada masing-masing tataran tersebut: variasi alofonemis dan variasi alomorfemis  jelas ada ciri-cirinya yang mirip.Contoh lain ialah perbandingan konsituen-konsituen kalimat dalam kalimat konkrit, dengan , katakanlah, anggota-anggota paradigma,karena variasi paradigmatis tersebut merupakan dasar untuk hubungan-hubungan di antaranya yang tidak terdapat (biasanya) diantara konsituen kalimat dalam sususnannya yang beruntun.

2.      Sistem dan Struktur asal dari pembedaan tsb.

Ferdinand De Saussure dalam bukunya “Cours De Linguistique generale” membedakan dua jenis hubungan yang terdapat antar satuan-satuan tertentu bahasa,yaitu:

a)      Hubungan Sintagmatis (Relations Syntsgmatiques)

Hubungan yang terdapat antara satuan-satuan kalimat konkrit tertentu.

b)      Hubungan Asosiatif (Relations Assosciatives)

Hubungan yang terdapat dalam bahasa tetapi tidak tampak dalam susunan beruntun satuan-satuan dalam kalimat dan tampak hanyalah bila suatu kalimat dibandingakan dengan kalimat konkrit yang lain.

Ahli Linguistik Denmark yang banyak memperoleh ilham dari Saussure, yaitu Louis Hjelmslev, meminjam pembedaan Saussure tadi, tapi ia memberikan nama lain kepada (b): “Hubungan Paradigmatis” (Relations Paradimatiques) jadi ia membedakan hubungan sintagmatis dari hubungan paradigmatis. Istilah “Paradigmatis” bagi kita sudah tidak baru lagi, dalam morfologi dapat di pakai dengan dua arti : (i) untuk perubahan morfemis yang mempertahankan identitas kata, (ii) untuk perubahan baik di dalam maupun di luar identitas kata. Istiolah “ Paradigmatis” merupakan kemajuan dibandingkan dengan istilah “Asosiatif?” yang digantinya, karena istilah “Paradigmatis” paling sedikit adalah istilah Linguistik. Sedang istoilah “Asosiatif” diambil dari ilmu Psikologi.

 

3.      Sistem dan Struktur Peranannya Dalam Analisa Linguistis

Struktur ialah susunan bagian-bagian dalam dimemsi linear. Demi mudahnya kita ambil sebagai satuan pokok kalimat ( meskipun suatu teks , dalam analisa wacana, memperlihatkan banyak hubungan struktural; lihat Bab VII pasal (8). Setiap kalimat dapat di bagi-bagiatas bagian-bagian tertentu, secara fonemis, morfemis, sintaksis. Bagian itu disebut “Konstituen”. Tiap-tiap konstitruen dapat “diasosiasikan” (menurut istilah Saussure) dengan bentuk bahasa yang lain , satu fonem dengan fonem yang lain,satu morfem dengan morfem yang lain; demikian pula dengan kata,fungsi ,peran.Hubungan asosiatif tadi kita sebut Sistem. Suatu konsep yang penting,yang  menyangkut baik sruktur maupun sistem ialah konsep “Distribusi”.

4.      Sistem, Struktur, dan Distribusi

Istilah “Distribusi” (Inggr.distribution) menjadi istilah pokok analisa linguistis dalam metode Leonard Bloomfield,ahli linguistik Amerika, Kemudian konsep distribusi menjadi bahan pembahasan terperinci, sehingga menjadi terlalu berbeli-belit.Konsep tersebut akan disederhanakan menjadi konsep dasar yang tidak terlalu rumit. Dua konsep distribusi dapat dibedakan yakni : (i) Distribusi salah satu konstituen kalimat untuk menunjukkan hubungan –hubungan konstituen tersebut dengan konstituen lain dalam kalimat.(ii) Pada umumnya yang dimaksudkan dengan “distribusi”ialah kemungkinan penggantian konstituen tertentu dalam kalimat tertentu dengan konstituen lain.

Jadi pengertian dasar konsep “distribusi” ialah pengertian (i); tetapi bila kita membedakan distribusi paralel dan distribusi komplementer,pembedaan tersebut termasuk pengertian (ii) tentang distribusi. Banyak kekacauan dapat dihindarkan bila kita sadar akan perbedaan antara (i) dan(ii) itu.

5.      Beberapa Jenis Struktur

 

Struktur itu berdasarkan kemungkinan susunan satuan-satuan dalam kalimat; susunan tersebut dapat dibedakan menurut tataran sistematik bahasa, yakni ;

a)      Susunan Fonetis

Dalam tiap-tiap bahasa kemungkinan susunan fonetis dibatasi oleh kaidah tertentu, yaitu menurut struktur sukukata.

b)     Susunan Alofonemis

Sebagaimana diuraikan pada Bab.IV, pas. (3). Variasi alofonemis tergantung dari distribusi struktural fonem yang bersangkuatan, mis. Dalam bahasa Inggris fonem /t/ beraspirasi bila diikuti oleh vokal,sedangkan bila diikuti konsonan, fonem itu tidak bersapirasi.

c)      Susunan Fonemis

Hal itu menyangkut distribusi fonen dalam kata. Mis. Dalam bahasa Inggris fonem/ŋ/ tidak terdapt pada awal kata , sedangkan dalam bahasa Indonesia,bahasa Jawa dan banyak bahasa lain di Indonesia fonem /ŋ/ itu dapat mengawali kata.

d)     Susunan Alomorfemis

Tentang variasi alomorfemis lihat Bab V, pas. (4). Anda dipersilahkan memberi contoh dari satu atau dua bahasa lain yang anda kuasai.

e)      Susunan Morfemis

Disini pula satu contoh saja sudah cukup. Klikita –lah dalam bahasa Indonesia selalu ditambahkan pada akhir kata. Jadi sebagai contoh kata-kata yang dihasilkan dengan klitisasi tersebut dapat isebutkan mis.diperpanjanglah , dan diperpanjangnyalah, tetapi bukannya *diperpanjangnyalah ; bentuk ini tidak diizinkan oleh struktur morfemis dalam bahasa Indonesia.

f)       Susunan Sintaksis

Banyak sekali contoh yang dapat dibedakan disini. Dalam bahasa Indonesia objek kalimat tidak dapat mendahului predikat. Dalam bahasa Inggris subyek mengikuti predikat atau kata kerja bantu (bila predikat berupa konstituen verbal yang berfrase), kalau (i) kalimat itu berupa kalimat tanya dan subyek tidak berbentuk kata ganti tanya; (ii) kalimat itu mengawali dengan kata ingkar yang tidak menempati fungsi subyek.

 

6.      Beberapa Jenis Sistem

Karena sistem itu berdasarkan kemungkinan penggantian atau (lebih tepat dalm peristilahan lingguistik) “substitusi” unsur mana saja, maka variasi paradigmatis hanyalah merupakan salah satu jenis sistemis saja.

a)      Substitusi Fonemis

Substitusi fonemis sudah kita ketahui sebagai “perbedaan minimal” dalm “pasangan minimal”, mis. Rupa- lupa ,dangkalpangkal, hangatsangat.Maka boleh dikatakan bahwa keseluruhan fonem dalam suatu bahasa (tertentu) merupakan sistem fonemis, karena fonem – fonem itu justru dibedakan karena dapat saling mengganti untuk membedakan kata – kata.

b)     Substitusi Morfemis

Dalam substitusi morfemis termasuk variasi berparadigma maupunvariasi berderivasi.

c)      Substitusi Sintaksis

Yang dapat diganti ialah unsur – unsur yang tidak mengubah fungsi, peran, atau kategori yang sama.

(i) Substitusi kata hanya mungkin dalam kategori yang sama, yaitu suatu kata benda dapat diganti olegh kata benda lain, kata sifat oleh kata sifat lain.

(ii) Kemungkinan substitusi frase merupakn persoalan khusus.Untuk pemecahan tersebut kita butuhkan suatu teknik lain lagi. Kita harus membedakan antara “frase endosentris” dan “ frase eksosentris”.

7.      Frase Endosentris dan Frase Eksosentris

 

Frase itu ialah kelompok kata. Jelas ada bermacam – macam kelompok kata dan perbedaan diantaranya perbedaan struktur. Mis. Frase dalam gedung memilliki struktur yang lain dibandingkan dengan frase gedung yang tinggi itu; hal itu sudah dapat kita “rasakan” perbedaannya “terasa”.Dalam setiap frase salah satu kata merupakan kata yang terpenting, sedang yang lain tidak sepenting yang lain.Yang menarik perhatian ialah bahwa ada frase pusatnya berdistribusi paralel dengan seluruh frase yang bersangkutan.Dengan kata lain, frase endosentris ialah frase yang berdistribusi paralel dengan pusatnya.Sedangkan frase eksosentris ialah frase yang berdistribusi komplementer dengan pusatnya.

8.      Peranan Kata Dalam Analisa Sistematis

 

Kita sudah tahu bahwa kata, sebagai unsur leksikal, merupakan dasar untuk tiga jenis pembedaan yang penting dalam keseluruhan sistematik bahasa, yakni; (i) antara tatabahasa dan leksikon; (ii) antara tatabahasa dan fonologi; (iii)di dalam tatabahasa itu sendiri, antara morfologi dan sintaksis.

Kata itu dapat dipandang dan dianalisa dari beberapa sudut:

a)      Secara Fonetis

Dalam setiap bahasa kata ditandai ciri – ciri khas bila dipandang dari sudut fonetis. Dari sudut fonetis tidak semua kata diawali dengan konsonan: secara fonetis boleh dikatakan setiap kata Jerman diawali dengan bunyi konsonan (yaitu , entah konsonan “biasa” entah konsonan bunyi hamzah sebelum vokal).

b)     Secara Fonemis

Distribusi fonemis yang dimaksudkan di sini ialah distribusi strukturil,selalu memakai kata unsur dasar. Mis, bila kita selidiki gugus konsonan dalam bahasa Inggris, jangan kita simpulkan dari kalimat I paid much bahwa fonem /d/ dan fonem /m/ membentuk satu gugus, karena dedua fonem tersebut hanya terdapat pada batas dua kata yang berlainan.

c)      Secara Morfemis

Menurut struktur morfemis setiap kata berbentuk bebas, entah terdiri atas satu morfem (bebas), entah atau beberapa morfem, bebas atau tidak, atau satu (beberapa) bebas dan satu (beberapa) terikat, tetapi sedemikian rupa sehingga seluruhnya bebas.

d)     Secara Sintaksis

Secara sintaksis apa yang kita sebut kata ialah setiap konstituen yang dapat dipisahkan dari konstituen yang berikutnya atau yang mendahuluinya dalam kalimat tertentu; bertukar tempat, atau ber”permutasi” dengan konstituen yang berikutnya atau yang mendahuluinya dalam kalimat tertentu.

e)      Secara Leksikal

Bila kiat melihat kaya sebagai leksem, maka sudut pandangan yang harus kita pakai ialah sudut leksikal. Sudut itu dipakai dalam cabang linguistik yang lazim disebut leksikologi, yaitu analisa dari leksikon sebagai leksikon. Kata leksikal, atau leksem,memiliki makna tertentu yang mengkaitkannya dengan suatu unsur luar bahasa.

f)       Secara Leksikografis

Leksikografi ialah penerapan praktis dari asas – asas leksikologi. Jadi leksikografi itu termasuk lingguistik terapan Tugasnya adalah perkamusan. Tetapi sebuah kamus harus mudah dipakai,harus praktis.Hal itu berarti bahwa asas –asas leksikologis sering harus kita langgar.Mis. menyebutkan  ditambahkan pada kata pokok sebut tadi. Jadi secara leksikografis, dari semua unsur leksikal tersebut hanya sebut saja yang dipandang sebagai unsur leksikografis, dan dalam hal ini, “kata leksikografis” tidak sama dengan “kata leksikal”. Padahal dalam hal lain asas – asas leksikologis dipertahankan.

9.      Analisa Sistematik dan Masalah Konstituen “Nol”

 

Berhubung dengan analisa bentuk imperatif sebut sudah tidak kenal morfem {Ǿ}. Morfem {Ǿ} sebagai morfem “nol” memang tidak dapat kita pastikan secara empiris dengan cara langsung, karena konstituen “nol” tidak menampakkan diri secara langsung. Namun bila kita analisa seluruh paradigma dari akta kerja menyebut, maka ada alasan kuat untuk mengandaikan adanya morfem {Ǿ} itu didepan bentuk terikat –sebut,hasilnya bentuk imperatif sebut. Karena bentuk imperatif dari kata kerja transitif dapat ditafsirkan sebagai bentuk pasif.

Konstituen Ǿ dalam sebut dan konstituen dalam kalimt – kalimat lain berbeda dalam satu aspek penting; sedangkan Ǿ itu dalam kalimat tersebut dapat diganti oleh konstituen “lengkap”, penggantian semacam itu tidak bisa dalam sebut. Konstituen Ǿ yang bisa diganti oleh konstituen “lengkap” kita sebut “elips”. Dapat ditambahkan bahwa istilah Inggris untuk “ nol” itu (kedua – duanya jenis tadi, jadi yang eliptis dan yang tidak eliptis) disebut zero.

10.   Analisa Pembagian Langsung

 

Segmentasi dapat dilaksanakan “ dari kiri ke kanan”, entah secara fonemis, entah secar morfemis, entah secara sintaksis. Segmentasi semacam itu sebetulny tidak berarti banyakkhususnya dalam sintaksis, dan tidak memberikan pengertian mengenai struktur kalimat ,struktur kata,bahkan struktur fonemis.Namun sedikit latihan dalam teknik analisa ini dapat membantu memahami persoalan –persoalan tersebut.

Beberapa contoh :

Saya mau pergi ke surabaya besok pagi

 

Saya         mau pergi ke surabaya besok pagi

 

Mau pergi        ke surabya besok pagi

 

Mau       pergi       ke surabaya                   besok pagi

 

Ke               surabaya        besok            pagi

Analisa ini agak mudah dan sederhana. Tetapi tidak jelas mengapa setiap langkah harus membedakan dua konstituen misalnya kita dapat melakukan pembegian pertama juga atas tiga konstituen yakni :

Saya mau pergi ke surabaya besok pagi

 

Saya             mau        pergi ke surabaya besok pagi

 

Jadi pasti ada intuisi yang menghindarkan kita membuat kesalahan paling sedikit dalam beberapa aspek. Maka dari itu dapat kita simpulkan bahwa dalam penilaian kita terhadap struktu kalimat,intuisi kita memainkan peranan penting. Kita tau apa yang tepat,dan apa yang tidak tepat,meskipun sering tak ada kita rumuskan kaedah kaedah mengenai hal-hal yang sudah dapat kita nilai tanpa rumusan-rumusan itu.

11.  Analisa Rangkaian Unsur dan Analisa proses unsur

 

Istilah “analisa rangkaian unsur” kami usulakan sebagai terjemahan istilah Inggris.Analisa PU adalah analisa yang memandang bentuk-bentuk morfemis sebagai hasil dari suatu proses. Analisa PU lebih tua dalam linguistik, dan baru pada masa bloomfield masuklah istilah RU alasan tradisi RU boleh dirumuskan seperti : Kalau istilah “ berasal dari ”  tidak bersifat diakronis.Tetapi ada baiknya istilah PU dan RU sudah diterapkan pada sintaksis ( dan morfologi )

12.  Analisa Transformasionil

 

Tata bahasa transformasionil dipakasi sebagai nama aliran penting ini  ( inggris transformational grammar ) juga disebut genaratif grammar ‘ tata bahasa generatif ’ , atau genative transformational grammar. Tata bahasa ini antara lain mengandung perluasan tatabahasa “ proses “ bagi seluruh tata bahasa, terutama sintaksis,bahkan leksikon dalam banyak segi-seginya termasuk didalamnya.

 

13.  Analisa Lain- Lain

 

Uraian mengenai bermacam macam teknik analisa dalam bab ini tidak lengkap dalam hal ini misalnya analisa fungsionil,analisa katagorial,dan analisa menurut peran.Akan tetapi untuk tujuan buku pengantar pertama ini kiranya cukup sekian tentang teknik nalisa sistematik.Yang masih akan diuraikan dalam bab berikut ialah analisa semantis.

 

B.7. Semantik

1.       Mengapa Semantik Sesudah Uraian Tentang Teknik Analisa Sistematis ?

 

Sebuah masalah lain yang dibicarakan secara terpecah – pecah dalam Bab III sampai dengan IV pula adalah masalah semantik. “Semantik” berarti ‘teori makna “ .; kata sifat semantik denagan “semantis” sebagai kata sifatnya, dan semantik itu akan diuaraikan dalam Bab ini.

2.       Semantik Leksikal dan Semantik gramatikal

Fungsi(tak ada semantiknya;kosong dari arti)

sintaksis       Kategori

Peran

tatabahasa                                                    semantik (gramatikal)

morfologi

fonologi (tak ada semantiknya; tetapi tiap-tiap fonem

berfungsi sebagai pembeda makna)

fonetik (tak ada semantiknya)

leksikon (semantik leksikal)

Ruang lingkup semantik dalam sisttematik bahasa

 

3.       Semantik Kalimat

Yang dimaksud dengan semantik kalimat ialah semuanya yang termasuk dalam semantik gramatikal atau semantik leksikal seperti diuraikan pada pas.2 tadi. Tentang semantik kalimat masih sedikit sekali yang menarik perhatian para ahli lingguistik, dan dalam buku ini penguraian tentang masallah itu dibatasi pada masalah topikalisasi.

 

4.       Makna dan Informasi

 

Makna kalimat ialah isi semantis kalaimat, atau isi semantis bagian kalimat. Tetapi kalimat kita memberikan informasi tertentu pula.Banyak ahli lingguistik mengacaukan makna dan informasi. Bagi mereka kedua kalimat itu memiliki makna yang sama.Suatu kalimt tertentu sama “maknanya” dengan “parafrase” dari kalimat itu. Parafrase adalah rumusan informasi yang sama dengan bentuk ujaran yang lain.

 

5.       Semantik Leksikal

 

Ferdinand De Saussure memberikan suatu teori yang kita pinjam pula, yaitu teorinya tentang “tanda lingguistik”, yang terdiri dari dua unsur, yakni : “yang diartikan dan “yang mengartikan”. Yang diartikan itu adalah yang lazimnya kita sebut “makna” ,sedang “yang mengartikan “ itu adlah deretan bunyi yang merupakan bentuk fonetis/fonemis dari kata yang bersangkutan.diagram yang berikut ini dapat menjelaskan apa yang diuraikan di sini (dengan membabkan istilah Inggris):

signifé                        signified              yg diartikan          makna

Sigme              ———-=sign          ———=tanda       ———-=kata        ———–

signifiant                   signifier                 yg mengartikan   bunyi-bunyi

(Perancis)                       (Inggris)               (I n d o n e s i a)

Peristilahan Saussure , dengan istilah Inggris, dan penjelasan Indonesia

6.       Makna Leksikal dan Penerapannya

 

Yang diuraikan tadi dapat juga dirumuskan begini:dalam kata kerja meja, arti ‘meja’ yang diartikan oleh deretan bunyi m-e-j-a, diterapkan pada referennya, yaitu pada perabot tadi . Memang mebel meja itu, yang ditandai oleh kata meja tadi,sesuai dengan kata itu:referenya cocok dengan kata yang dipakai.Tetapi sering kali referen dari sebuah kata yang kita pakai tidak cocok dengan makna kata yang kita pakai itu,yaitu dalam metafora.Makna dari unsur leksikal tidak dapat  diubah. Yang menyeleweng dalam hal metafora bukannya makna kata yang dipakai secara metaforis, melainkan penerapan makna yang bersangkutan,yaitu makna itu diterapkan kepada suatu referen yang tidak esuai dengan makna tadi.

7.       Makna dan Maksud

Maksud adalah sesuatu luar ujaran dipihak maksud dari si pengujar.Sedangkan metafor adalah contoh yang baik tentang maksud tersebut.Metafora sering dibicarakan dalam ilmu sastra,dan memang sebagai “gaya “bahasa”.Beberapa contoh semantik maksud:

a)      Metafora

b)      Ironi maksudnya dengan perkataan halus sering kita ungkapkan sesuatu yang tidak begitu halus.

c)      Litotes. Gaya bahasa yang memperkecil sesuatu.

8.       Semantik Maksud

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

Umpan RSS untuk komentar-komentar pada pos ini. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

The Banana Smoothie Theme. Blog pada WordPress.com.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: